Kami telah memperbarui tampilan website, klik disini untuk mengakses versi lama website kami.

Kunjungan Kerja Ke Sumsel, Wamen LHK Tinjau Pusat Rehabilitasi Satwa Punti Kayu Dan Kesiapsiagaan Pengendalian Karhutla

Wakil Menteri (Wamen) Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Alue Dohong, didampingi Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Sigit Reliantoro, Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Thomas Nifinluri, Plt. Direktur Pengendalian Pencemaran Air CH. Nety Widayati beserta jajaran melakukan kunjungan kerja (kunker) ke Provinsi Sumatera Selatan selama dua hari, pada Jumat (11/8) dan Sabtu (12/8) dalam rangka meninjau kesiapsiagaan pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kegiatan diawali dengan briefing rangkaian kunker di ruang VIP Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang bersama Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Selatan, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan Provinsi Sumatera Selatan, dan para Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian LHK lingkup Provinsi Sumatera Selatan.

Selanjutnya, Wamen Alue Dohong melakukan pembinaan pegawai di kantor Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Selatan, dan meneruskan kunjungan ke Pusat Rehabilitasi Satwa (PRS) Punti Kayu dibawah pengelolaan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan (Sumsel) dan The Aspinall Foundation (TAF).

Wamen Alue mengapresiasi konsep pengembangan PRS yang dinilai sudah cukup bagus, termasuk keberadaan pusat informasi PRS.

“Pusat informasi PRS yang representatif sebagai media edukasi sangat perlu dukungan untuk direalisasikan pembangunannya. Dalam hal ini, Aspinall harus membantu,” pesan Wamen Alue.

Sebagai pengantar, Kepala BKSDA Sumsel Ujang Wisnu Barata menjelaskan site plan PRS Punti Kayu, dilanjutkan dengan peninjauan kandang karantina serta kandang sosialisasi satwa siamang (Symphalangus syndactylus).

“Saat ini terdapat 23 individu satwa transit yang berada di PRS Punti Kayu untuk mendapatkan tindakan konservasi lebih lanjut, serta dilakukan pengecekan secara kontinu terhadap kondisi satwa tersebut untuk kelayakan rilis ataupun rekomendasi lainnya,” terang Ujang.

Wamen Alue beserta seluruh pihak yang hadir melakukan pelepasliaran 40 ekor burung perkutut (Geopelia striata) dan 5 ekor siri-siri (Ixos virescens) yang berasal dari serahan masyarakat di area PRS Punti Kayu. Kegiatan ini dilakukan dalam rangkaian Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) yang diperingati setiap tanggal 10 Agustus, serta merupakan bentuk konsistensi pelaksanaan program Kementerian LHK “Living in Harmony with Nature: Melestarikan Satwa Liar Milik Negara”.

Selanjutnya, rombongan melakukan penanaman pohon jenis asli Sumatera Selatan yaitu damar (Agathis dammara), ulin (Eusideroxylon zwageri), salam (Syzygium polyanthum), durian (Durio zibethinus), dan nangka (Artocarpus heterophyllus). Dalam kunjungan ini, Wamen juga berkesempatan ‘mencicipi’ produk-produk lokal dari masyarakat binaan BKSDA Sumsel seperti kopi, gula aren, dan sirup jahe merah.

“Terima kasih atas kesediaan Bapak Wamen beserta jajaran yang telah mengunjungi PRS Punti Kayu,” ucap Ujang.

Malam harinya (11/8), Wamen beserta jajaran Kementerian LHK melakukan audiensi dengan Gubernur Sumatera Selatan membahas kesiapsiagaan pengendalian, termasuk menghadapi risiko karhutla, yang menjadi perhatian bersama dalam menjaga keberlanjutan lingkungan dan mencegah kerusakan akibat karhutla.

Pada sesi diskusi, terdapat pembahasan menarik mengenai Kelompok Gajah Air Sugihan. Dalam kesempatan ini, BKSDA Sumsel menerangkan konsep koridor satwa serta peran penting para pihak dalam usaha mitigasi interaksi negatif gajah dan manusia melalui  pembentukan forum, yang secara kontinu melaksanakan konsolidasi dalam merealisasikan program-program konservasi meliputi akademisi, mitra swasta, para perangkat wilayah baik dari kabupaten, kecamatan, sampai dengan desa, serta organisasi/komunitas masyarakat terkait.

Pada hari Sabtu (12/8), Wamen beserta jajaran Kementerian LHK meninjau dukungan satgas udara di Lanud Sri Mulyono Herlambang, dilanjutkan dengan FGD Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) dan water boombing bersama Kepala Lanud, BPBD Provinsi Sumatera Selatan, Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Selatan, Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan Provinsi Sumatera Selatan, dan UPT Kementerian LHK lingkup Provinsi Sumatera Selatan.

Wamen mengapresiasi kesiapsiagaan jajaran Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, dimana melalui aplikasi “songket” deteksi dini dapat dijalankan.

“Semua pihak harus memperkuat kolaborasi, pengendalian karhutla merupakan tanggung jawab, tanggung renteng bersama. Menghadapi el nino, agar semua pihak berpuasa membakar,” pesan Wamen.

Terakhir, Wamen melanjutkan kunjungan kerjanya ke Manggala Agni Sumatera XVII/OKI memastikan kesiapsiagaan serta sarpras dalam menghadapi ancaman karhutla, serta meninjau lokasi bekas kebakaran di wilayah Ogan Komering Ilir.

https://ppid.menlhk.go.id/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *