73C14B17-C81F-447F-AB93-52E713F13480
Photo Courtesy: Ditjen KSDAE

Labuan Lalang, 14 Juli 2018. Balai Taman Nasional Bali Barat (TNBB) kembali melepasliarkan burung Jalak Bali (Leucopsar rothschildi), sebanyak 10 (sepuluh) ekor burung Jalak Bali bersama Koordinator Staf Khusus Presiden RI, Drs. Teten Masduki dan Direktur Jenderal KSDAE, Ir. Wiratno, M.Sc. Pelepasliaran di lakukan di daerah Labuan Lalang, kawasan TNBB, menggunakan metode soft release. Sebelum dilepasliarkan, 10 ekor burung Curik Bali yang telah dilakukan proses habituasi di kandang pra pelepasliaran ini didahului dengan penandatanganan berita acara pelepasliaran.

Acara ini juga dihadiri oleh Kepala Balai KSDA Bali, komunitas pecinta burung Ronggolawe, perbekel (kepala desa) dan bendesa adat sekitar TNBB, bendesa adat serta perwakilan kelompok masyarakat sekitar TNBB. Dalam sambutannya, Koordinator Staf Khusus Presiden RI menyampaikan apresiasi dan dukungannya terhadap upaya pelestarian yang dilakukan oleh Balai TNBB. Pada kesempatan yang sama, Dirjen KSDAE juga menyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu upaya komservasi burung Jalak Bali, sehingga populasinya dapat tumbuh dan berkembang dengan sangat baik. Wiratno menambahkan, untuk mengelola kawasan konservasi saat ini kita harus memakai paradigma baru dan cara baru mengelola kawasan. Diantaranya adalah menempatkan masyarakat sebagai subyek dan penghargaan terhadap budaya serta adat masyarakat sekitar. Sehingga peran masyarakat menjadi sangat penting untuk mendukung keberhasilan pengelolaan kawasan konservasi, termasuk salah satunya konservasi burung Jalak Bali. Hal ini sejalan dengan nawacita Presiden Jokowi untuk menghadirkan negara di masyarakat.

Setelah dilepasliarkan, petugas Balai TNBB dibantu masyarakat akan melakukan monitoring intensif guna memastikan burung Jalak Bali dapat bertahan hidup dan berkembangbiak dengan baik. Selain itu, dilakukan juga pengisian kembali kandang habituasi dengan burung Curik Bali baru sebagai pengikat. Sebagai rangkaian acara, dilakukan penanaman jenis pohon penghasil pakan dan pohon langka, yaitu Pilang (Acacia leucophloea), Cendana (Santalum album) dan Sawo Kecik (Manilkara kauki). Pada kesempatan ini juga dilakukan secara simbolis penandatanganan prasasti pembangunan sarpras di TNBB berupa sarpras monumen/gapura Curik Bali. Dalam kunjungan tersebut, rombongan juga menyempatkan untuk mengunjungi Sanctuary Curik Bali di UPKPJB Tegal Bunder serta kunjungan ke area Ijin Pengusahaan Pariwisata Alam (IPPA) PT Trimbawan Swastama Sejati.

Burung Jalak Bali di habitat alaminya ‎semakin bertambah. Hal itu dapat diketahui dari data pengamatan time series yang dilakukan Balai TNBB. Kepala Balai TNBB, Agus Ngurah Krisna menjelaskan, selama kurun waktu lima tahun terakhir, ukuran populasi burung Jalak Bali di alam terus meningkat. Pada tahun 2013, hasil inventarisasi mendapatkan data 32 ekor saja di alam. Namun seiring upaya konservasi yang dilakukan, ukuran populasinya bertambah setiap tahun hingga pada tahun 2018 teramati sebanyak 141 ekor burung Jalak Bali hidup bebas di habitatnya dalam kawasan TNBB. Ratusan burung yang oleh masyarakat Bali disebut curik itu menyebar di 6 (enam) titik dalam kawasan TNBB, yaitu Cekik, Tegal Bunder, Lampu Merah, Teluk Brumbun, Labuan Lalang, dan Tanjung Gelap.
Burung dengan nama latin Leucopsar rohtscildi ini mendapat perhatian besar dari Balai TNBB. Selain burung yang ada di alam, saat ini terdapat 336 ekor burung Jalak Bali di kandang pembiakan Unit Pengelolaan Khusus Pembinaan Jalak Bali (UPKPJB).‎‎ Burung di UPKPJB nantinya digunakan untuk menambah stok di alam dengan cara dilepasliarkan. Menurut catatan, sejak dilepasliarkan di site Labuan Lalang pertama kali pada tahun 2015, spesies burung endemik Bali ini sudah terpantau sebanyak 65 ekor hanya di satu area pelepasliaran yaitu di Labuan Lalang. Burung yang berhasil diamati saat ini banyak yang tidak menggunakan cincin sebagai penanda hasil pelepasliaran. Artinya, burung Jalak Bali tersebut merupakan anakan yang berhasil menetas di habitat alaminya. Mari terus bekerja untuk memulihkan populasi burung Curik Bali.

Sumber : Balai Taman Nasional Bali Barat

Berita selengkapnya disini

About the Author

Anda akan meninggalkan halaman website Balai Kliring Keanekaragaman Hayati Indonesia,

Apakah anda yakin?

Menuju ke : http://inabif.lipi.go.id/
Lanjutkan
close-link

Anda akan meninggalkan halaman website Balai Kliring Keanekaragaman Hayati Indonesia,

Apakah anda yakin?

Menuju ke : http://kkji.kp3k.kkp.go.id/index.php/basisdata-kawasan-konservasi
Lanjutkan
close-link

Anda akan meninggalkan halaman website Balai Kliring Keanekaragaman Hayati Indonesia,

Apakah anda yakin?

Menuju ke : http://ejournal.lipi.go.id/
Lanjutkan
close-link